Satu Bulannya Sidu

pexels-cottonbro-3663060

Sampai hari ini rasanya masih belum percaya di setiap harinya ketika Aku membuka mata di pagi hari, ada sosok bertubuh mungil. Sosok yang tertidur lelap dengan wajah polosnya, semakin Aku tatap semakin besar rasa sayang ini.

Sudah satu bulan Sidu hadir di dunia, setelah sembilan bulan Ia hidup dan tinggal di dalam kandungan. Oh ya Sidu adalah nama panggilan lain dari anakku hehehe.

Jujur, Aku membutuhkan banyak penyesuaian semenjak hadirnya Sidu. Aku sudah tidak boleh lagi egois, ada tanggung jawab yang bertambah dan harus ku emban dalam jangka waktu yang lama (bahkan selamanya). Prioritas hidupku pun mengalami perubahan.

Contohnya saja aktivitas harian dan jam tidur yang berubah drastis. Alhamdulillahnya Sidu gak terlalu rewel kalo di malam hari, tetapi tetap saja Aku harus meluangkan waktu setiap beberapa jam sekali untuk memberikannya susu dan mengganti popoknya. Melawan rasa kantuk yang luar biasa.

Ada kalanya Sidu rewel tanpa alasan yang jelas berjam-jam. Padahal dia sudah minum susu, ruangan tidak dalam kondisi yang panas ataupun dingin, popok sudah diganti dsb. Seringkali Aku bingung apa yang harus dilakukan namun Aku harus sabar dan tetap menenangkannya.

Tentunya banyak sekali penyesuaian dan adaptasi yang Aku lakukan semenjak adanya Sidu.

Namun semakin Aku renungkan, ternyata bukan hanya Aku saja yang selama sebulan ini beradaptasi. Tetapi juga Sidu.

Sidu, yang selama sembilan bulan berada dalam perutku dengan suhu yang stabil kemudian ketika Dia lahir harus beradaptasi dengan suhu lingkungan yang cenderung berubah-ubah, pagi dan malam hari yang dingin dan siang hari yang panas.

Sidu pun terkadang harus menangis terlebih dahulu untuk memberi tahu bahwa Ia lapar. Sementara selama sembilan bulan dalam kandungan Ia terbiasa makan otomatis melalui plasenta.

Lalu Sidu seringkali merasa ketidaknyamanan dengan menggunakan popok yang kadang sudah basah, penuh ataupun ada  BABnya sementara selama dalam kandungan Ia tidak pernah merasakan hal itu.

Selain beradaptasi, Aku merasa ada perubahan lain dalam diriku. Aku bukan tipe orang yang sabar dan tenang, tetapi melalui Sidu Aku jadi belajar apa itu makna sabar dan tenang.

Aku yang awalnya tidak memiliki kemampuan mengurus seorang bayi, tetapi melalui Sidu Aku belajar untuk menjadi berani. Yang semula berbekal menonton video tutorial dari youtube hingga Aku bisa mengurus Sidu dari tali pusarnya masih menempel hingga sudah terlepas seperti sekarang.

Ya, ternyata Sidu dan Aku sama-sama beradaptasi dan kita pun sama-sama masih dan perlu untuk terus belajar.

Satu bulan Sidu di dunia, setelah penantian selama sembulan bulan. Aku sangat dan ingin selalu mengenal Sidu. Menangkap maksud dari setiap bahasa tubuh dan tatapannya. Menemani dan menjadi saksi dari perkembangannya.

Terakhir,

Sidu sayangku, Umi sayang Sidu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s