Tiga Bulan

grayscale-photo-of-gray-concrete-building-1057816.jpg

“Setelah berbagai macam pertimbangan yang ada, Aku memutuskan untuk resign”. Itulah kalimat penutup yang Aku ucapkan langsung kepada atasanku, kala itu disebuah ruangan meeting. Bukan seorang Deasy Monica namanya jika tidak pernah memikirkan matang-matang sebuah keputusan.

Tentu saja, setelah Aku keluar dari ruangan meeting bahkan hingga one month noticeku selesai, banyak sekali orang-orang yang bertanya-tanya alasanku untuk keluar. Karena Aku tidak pernah sekalipun mengeluhkan soal pekerjaan, atasan dan lingkungan. Yang mungkin mereka lihat, Aku baik-baik saja.

Sejujurnya, banyak sekali faktornya tetapi konklusinya tetap pada satu kalimat “Hati Aku kosong”. Mendengar alasanku tersebut, banyak pula yang menganggapku aneh. Ya pikirku, mereka ada benarnya, mana ada orang yang resign dengan alasan semacam itu, tetapi jika Kamu tau Aku dan se-saklek apa Aku terhadap suatu keputusan, Aku tetap tidak akan peduli.

Berada disana meskipun dalam waktu yang sangat singkat memberiku sebuah pelajaran, I wanna work not only for feed my tummy but also my soul. Aku gak mau hidup dan sampai mati nanti hanya untuk bekerja dan memperkaya diri sendiri, Aku merasa bahwa kapabilitasku bisa jauh lebih dari sekedar bekerja, Aku ingin mengembangkan diriku sendiri baik itu dari sisi spiritual maupun keahlian lain. Pun, Aku ingin apa-apa yang Aku miliki bisa menjadi manfaat untuk orang lain.

Untuk hal lebih konkretnya, di tahun 2016 hingga 2018 kegiatanku kuliah sambil bekerja. Tetapi disela-sela kesibukanku itu, Aku masih bisa mengembangkan diriku seperti menjadi seorang volunteer, kajian, mabit, belajar Bahasa arab, menjadi peserta workshop zerowaste atau mengikuti forum diskusi.

Selain itu, Aku merasa ada beberapa hal yang tidak sejalan dengan prinsip serta apa yang Aku yakini. Tetapi tetap pada sebuah inti, Aku merasakan adanya kekosongan hati. Akhirnya setelah berbulan-bulan menimbang baik buruknya, Akupun membulatkan tekad untuk resign.

Lalu, setelah Aku keluar hal apa saja yang Aku lakukan? Well, selama tiga bulan ini Aku melakukan banyak macam hal. Mulai dari mempersiapkan pernikahan, kursus mobil, mengambil kelas tahsin, mengikuti kelas olahraga, menjadi seorang volunteer, menghadiri kajian dan workshop.

Di tiga bulan ini, Aku merasa sedang memberi makan kepada jiwaku sendiri. Aku memang tidak bekerja dan tidak mendapatkan gaji bulanan seperti yang Aku rasakan selama bekerja di perusahaan. Tetapi menikmati jiwa yang terisi dengan hal-hal yang tidak Aku dapatkan selama ini membuatku merasa jauh lebih bahagia. Pun, selama tiga bulan ini adalah waktu rehat terbaik yang Aku dapatkan selama tiga tahun kebelakang Aku terlalu sibuk berkutat dan tidak ada waktu jeda sama sekali.

All in all, I’m a happy kid with a happy soul~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s