Hanya Butuh Satu

two-green-leaves-1084510.jpg

Hal yang selalu Aku yakini adalah setiap manusia yang hadir dalam hidup kita, pasti memiliki sebuah arti. Entah apapun yang mereka bawa dan mereka tinggalkan nanti, hanya butuh satu hal yang membuat kita mengerti dan belajar.

Well, dari sekian banyak manusia yang telah Aku temui, ada beberapa diantaranya yang masih sangat jelas Aku ingat, satu hal yang mereka berikan dan terus berbekas selama-lamanya.


“Mimpi itu harus tinggi Mon”

Tahun 2013, masa-masa baru memasuki dunia perkuliahan. Jurusan Teknik Sipil yang sama sekali tidak Aku mengerti, Iya Aku anak salah jurusan. Nilai IP semester 1 pun jelek sekali, ah bahkan 2,5 pun tidak. Teman-temanku pintar-pintar, mata kuliah yang sulit, dosen yang galak, tugas yang banyak dan pulang kuliah wajib himpunan. Keluhanku sudah bermacam-macam tetapi Aku simpan sendiri. Entah mengapa dari semua rasa keluhanku membuatku jadi tidak percaya diri. Bahkan bermimpi untuk mendapatkan nilai A di Mekanika Rekayasa yang di ampu oleh Pak Togar pun Aku tidak berani. Cupu ya?

Hingga suatu hari, Aku dan Dea sedang mengerjakan tugas bersama di kamar kostanku. Saat itu, biasalah Aku dan anak-anak mahasiswa lainnya senang menulis wishlist di Sticky Note dan dipampang bersama wallpaper laptop. Aku masih ingat jelas wishlist yang Aku tulis di sticky notesku yaitu Aku menulis nilai B di semua mata kuliah semester 2. Saat itu Dea melihat Wishlistku, lalu seketika Ia meminjam laptopku dan mengganti semua wishlistku dengan nilai A. Dia berkata, “Mimpi itu harus tinggi Mon”.

Di lain cerita, Aku punya sketch book baru dan kebetulan sedang duduk sebangku dengan Salma. Kemudian Ia menawarkan diri untuk menggambar di sketch book baruku itu. Tidak lama waktu yang diperlukan untuk dia menggambar, setelah selesai Salma pun memberikan hasilnya padaku. Ketika Aku lihat, Ia membuat hand lettering dengan tulisan “Bermimpilah sampai langit ke 8, jika kamu terjatuh, kamu masih berada di langit ke 7”.

Dari Salma dan Dea, Aku belajar untuk berani bermimpi, meskipun untuk hal yang tidak kita suka.

Siapa yang sangka Aku yang awalnya bener-bener gak bisa sama sekali dengan mata kuliah Teknik Sipil, langganan dimarahin Pak Togar (wkwk), pernah ngerasain jadi sekroco-kroconya mahasiswa dan ternyata saat wisuda dipanggil ke podium karena dapet penghargaan tugas akhir terbaik dan berhasil survive di perkuliahan Teknik Sipil tanpa nyontek selama ujian dan ngerjain tugas.


“Aku biasa aja Kalo Sama Kamu”

Masih di tahun 2013, sepertinya masa-masa baru masuk kuliah deh. Suatu hari Aku bersama ketiga teman SMP, Wira, Meisya dan Cahya main ke museum Geologi. Lalu menjelang dzuhur, kami pun memutuskan untuk shalat di Masjid Salman ITB.

Sesampainya di masjid, Aku bareng dengan Wira untuk naro sepatu dan wudhu. Setelah Wudhu, kami pun naik tangga menuju tempat shalat. Selama perjalanan menaiki anak tangga di area Akhwat, Wira yang saat itu belum mengenakan jilbab berkata sambil berbisik kepadaku “Duh Des, Aku malu deh kalo liat mereka. Tapi Aku biasa aja kalo sama Kamu”.

Fyi, perempuan di area Akhwat Masjid Salman ITB itu kebanyakan kerudungnya syar’i. Sedangkan Aku pada saat itu pake kerudung pun cuma selempang ke pundak, pake celana jeans dan masih belum bener lah wkwk.

Awalnya sih Aku cuma nanggepin dengan cengengesan doang, hingga pada suatu hari Aku berpikir dan bertanya kepada diriku sendiri “Emang kerudung yang Aku pake ada yang salah ya?”.

Akhirnya Aku pun mulai mencari tahu dan belajar, pelan-pelan hingga saat ini. Aku jadi makin memahami bahwa kerudung bukan hanya selembar kain yang sekedar digunakan untuk menutup kepala, tetapi memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada itu. Singkatnya, Kerudung itu pelindung, melindungi dan sebuah tanggung jawab.


“Seperti yang Sudah Saya Jelaskan”

Sewaktu masih kuliah sekitar tahun 2016, ada mata kuliah Konstruksi Bangunan Sipil yang di ampu oleh Pak Atmam. Setiap kelompok terdiri dari dua orang dan diwajibkan untuk presentasi di depan kelas mengenai metoda pelaksanaan jembatan.

Seusai presentasi, tibalah sesi tanya jawab. Ada beberapa pertanyaan yang diajukan oleh teman-temanku. Sekitar satu atau dua pertanyaan dari mereka Aku jawab dengan “Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, blablabla”.

Setelah semua pertanyaan dari teman-teman Aku dan teman kelompokku jawab, Pak Atmam pun menasehati,

“Kalau suatu hari nanti kalian bicara dengan seseorang, jangan pernah mengatakan Seperti yang sudah Saya jelaskan atau ngerti gak?. Karena hal itu sama artinya bahwa kita tidak menghargai si lawan bicara. Kita menganggap bahwa lawan bicara Kita ini tidak mumpuni.

Saya rasa, tidak sesulit itu untuk mengatakan kembali atau membuat kalimat yang telah diucapkan menjadi sederhana. Karena menghargai seseorang jauh lebih penting dibanding rasa malas dan ego dalam diri kita sendiri”

Setelah mendengar nasehat itu pun, seketika Aku merasa tertampar dan berjanji kepada diri sendiri tidak akan pernah mengucapkan hal seperti itu lagi kepada siapapun lawan bicaraku nanti.


 

2 thoughts on “Hanya Butuh Satu

  1. Kita punya background yang sama, yaitu Teknik Sipil. Dulu 2006 tepatnya milih jurusan inipun hanya sekedar milih, padahal maunya masuk T.Elektro tapi jatuhnya ke T. Sipil, udah jalan Allah, emang,, sekarang pun kerjaan bergelut ngak jauh dari bidang teknik sipil, semua insyaAllah ada hikmah, tinggal gimna kita bersyukur dan dijalani , hihihi
    Tang jadi bagaian lucu, sampe sekarang masih keliatan banget lakinya, padahal cewe, untuk ketutup dengan penampilan kerudung dan gamis.

    Like

    • Halo Aiko, terima kasih banyak sudah mampir~
      Iya, salah jurusan emang gak selamanya buruk seperti yang orang-orang lain bilang ya. Padahal kalo diliat dengan kacamata yang pas, banyak sekali hikmah dan pelajaran hidup yang bisa diambil.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s