Yang ke 23

photo-of-white-daisy-1420769.jpg

Pada tanggal 15 Mei kemarin, usiaku bertambah 1 tahun yang semula 22 menjadi 23. Sudah sejak tahun 2016 lalu Aku sudah tidak merayakan ulang tahun, tapi rasanya Aku harus tetap berterimakasih kepada orang-orang dari berbagai penjuru yang tetap mengingat jika 15 Mei adalah hari kelahiranku. Sekaligus, Aku ingin mengucapkan permintaan maaf karena respon atas ucapan kalian Aku balas dengan dingin.

Well, di usiaku yang ke 23 adalah stage of life paling exciting yang pernah ada. Pertama kalinya Aku merantau keluar kota setelah 22 tahun hanya berdiam di Bandung saja. Tinggal sendirian di mess (atau mungkin kosan?), memasak dan mengurus semua hal seorang diri. Mengatur keuangan untuk menabung, dana darurat, berbelanja dan hedon tentunya hahaha. Yang paling pamungkas tentunya jarak antara Aku dan keluarga yang membuat rasa senang setiap “mudik” ke Bandung meskipun hanya 1 atau 2 bulan sekali.

Beberapa minggu yang lalu Aku bertemu dengan teman-teman kuliahku. Gaya obrolan ketika Aku bertemu dengan mereka pasti Aku selalu menjadi moderator dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang “dalam” tentang diri masing-masing. Ya bahasa kerennya kita lebih doyan deep conversation dan diselingi jokes receh atau obrolan berat semacam isu terkini.

Di obrolan itu, ada salah satu pertanyaan yang Aku lontarkan dan sekaligus Aku ingin curhat juga sih, yaitu pertanyaan “Apa yang ingin kamu ubah dari diri kamu di tahun 2019 ini?”. Semua teman-temanku pun menjawab pertanyaan itu dan tibalah giliranku.

Untuk pertama kalinya, dihadapan mereka Aku berusaha mengatakan dengan jujur bahwa Aku ingin menjadi orang yang lebih jujur pada diri sendiri, mengatakan apapun even itu cerita sedih, senang, sukses ataupun kegagalan.

To be honest, gengsi Aku itu besar sekali. Jika dibandingkan dengan gunung Fuji, sepertinya lebih besar gengsi diri Aku deh hahaha. Tapi in the end, Aku rasa ini gak bagus untuk diri sendiri. Karena sebelumnya Aku selalu denial ketika menghadapi unwanted situation. Aku selalu berpura-pura kalo “Aku ini gak apa-apa loh” padahal aslinya gak gitu. 

Bersikap jujur terhadap diri sendiri tentunya beriringan dengan rasa gak mau melupakan bagian apapun dari diri sendiri, termasuk semua cerita sedih dan gagal. Karena ketika Aku renungin lagi, hal-hal itulah yang jadi dots dots dan saling terkoneksi sehingga membentuk diri Aku yang sekarang. And i think it’s pretty normal to have a bad day in our life

In the end I realize, sedih dan seneng itu paketnya barengan. Gak usah kaget dan heboh kalo salah satunya dateng duluan. Yang penting gimana caranya kudu bersikap tenang dan selalu embrace every moment that will happen to life.

Setelah belajar menjadi jujur terhadap diri sendiri, sebenarnya di usia ini ada pertanyaan yang sering mengganggu pikiranku, yaitu “Kenapa Aku?”. Karena somehow, Aku rada gak paham aja sih, apakah Aku se-sepadan itu untuk dipilih diantara manusia-manusia lainnya?

Hingga karena telalu mengganggu, Aku menceritakan kronologinya dan bertanya kepada seorang temanku lewat telepon di malam yang sudah larut dengan sinyal putus-putus karena Aku pake provider Three hahaha.

X: Menurut Kamu, kamu ngerasa beda ga dari orang lain?

D: Iya sih. Aku kadang ngerasa insecure aja gitu, gak bisa kaya mereka. Soalnya Aku gabisa kaya gini dan mereka bisa (menceritakan secara detail)

X: Kalo Aku ngeliatnya gak gitu sih. Apa yang bikin kamu insecure, ya itu kelebihan Kamu, makanya Kamu orang yang dipilih.

D: Oh gitu

X: Iya, udah sih yang paling bener kamu tetep jadi diri Kamu yang sekarang.

Obrolan itulah yang paling Aku ingat sampe detik ini dan seterusnya. Rasanya kadang pengen jitak kepala sendiri, buang-buang waktu untuk insecure hal yang gak penting padahal emang paling bener ya jadi diri sendiri. Dan tentunya sadar diri kalo gak semua hal yang orang lain punya harus kita bisa.

Persis seperti yang orang-orang bilang, kalo kita itu hidup harus sesuai passion dan kerja sesuai passion itu emang paling nikmat. Tapi ketika Aku periksa lagi diriku sendiri, sampai detik ini Aku tetep gak tau apa sih yang bener-bener jadi passionku. Yang Aku tau ya Aku suka sharing, tapi Apakah Aku gunakan sebagai hal utama untuk mata pencaharian? Ya enggak juga.

Tapi ya setelah Aku lihat lebih dalam lagi, kembali ke ujungnya bahwa gak semua hal yang orang lain punya harus kita punya. Gapapa banget kok kalo di usia sekarang rasanya masih clueless untuk tau 100% passion kita apaan, gak berarti dengan gak punya passion value kamu sebagai manusia berkurang dibandingkan dengan yang punya.

Kemudian di perjalananku menuju titik 23 tahun ini, perspektif kebahagiaan lambat laun mulai bergeser. Maksudku, definisi bahagia di titik yang sekarang bagiku bukan tentang hal-hal yang sifatnya fisik, let’s say punya rumah, kendaraan pribadi, kerja di tempat yang oke, bisa ngelanjutin kuliah, punya barang-barang yang diidamkan dari dulu, travelling ke tempat baru dll.

Ya gak munafik sih, semua hal itu emang bikin bahagia tapi gak bertahan lama. Semacam kaya “Oke gue punya ini karena hasil usaha gue sendiri” tapi rasanya ya cuma kaya numpang lewat doang aja gitu.

Udah lama emang Aku itu nyari definisi bahagia yang bakalan terus nempel di hati dan di kepala, yang sepertinya sampai tua pun Aku gak akan pernah lupa. Hingga sebelum tidur Aku baca salah satu tulisan di Medium dan menurutku ini BAGUSNYA GAK ADA OBAT, judulnyaThe Purpose Of Life is Not Happiness: It’s Usefulness“.

Di tulisan itu menyadarkan Aku tentang tujuan hidup sebenarnya, bahwa kita hidup di Dunia ini bukan hanya untuk mencari kebahagiaan semata, tapi gimana caranya kita jadi manusia yang berguna. Gak mesti ngelakuin hal-hal besar, cukup langkah-langkah kecil yang nantinya Akan ngebawa kamu nemuin kebahagiaan yang sebenernya.

Relate banget sama kejadian beberapa minggu yang lalu ketika Aku mudik ke Bandung. H-1 sebelum mudik, ada salah satu mahasiswi universitas di Bandung yang tiba-tiba nge-DM Instagramku. Intinya dia mau wawancara Aku terkait tulisan yang Aku buat di blog ini. Sebenernya ini udah kali ke sekian sih Aku diawawancara yang berkaitan dengan tulisan di blog, tapi menurutku kejadian inilah yang jadi gongnya.

Hari wawancara pun tiba, Aku dan dua mahasiswi ini ketemu di salah satu kedai kopi daerah Pasir Kaliki Bandung. Agak tegang sih sebenernya pas di wawancara dan di shot, but overall Aku seneng banget. Terus setelah selesai kita ngobrol-ngobrol seputar kuliah, isu lingkungan dan kerjaan. Gak lupa juga Aku nanyain ke mereka kenapa bisa nemu tulisanku dan ngehubungin Aku ke Instagram.

Aku masih inget banget salah satu dari mereka bilang yang intinya “Siapa yang sangka hal yang menurut kamu biasa aja ternyata bisa bantu orang lain di luar sana”

Setelah pertemuan itu Aku sadar dan kemudian nge-rewind berbagai macam obrolan dengan orang-orang yang baca tulisanku baik itu lewat website, wordpress atau instagram. Bahwa hal yang mungkin menurutku biasa aja yang kaya cuma nulis-nulis iseng dan untuk ngisi waktu luang, ternyata bisa mengantarkan Aku untuk kenal orang baru, anak-anak muda yang keren dan (mudah-mudahan) bisa ngebantu mereka.

Itulah alesan kuat yang nge-drive Aku untuk ikutan berbagai macam kegiatan volunteer, karena Aku ingin tau sejauh mana sebagai manusia bisa berguna untuk orang lain.

Alasan lainnya, Aku ngerasa jadi orang yang jahat jika semua privilege yang Aku dapetin dari lahir hingga detik ini cuma Aku genggam erat tanpa Aku bagiin ke orang lain. Masa iya Aku mau hidup sampe mati nanti cuma untuk memperkaya diri sendiri doang?

Akhirnya Aku susun semua rencana di kepala kalo nanti Aku mau ngapain aja. Oh iya, Aku itu hobinya nyeritain rencana hidup ke orang lain, karena bagiku ya mimpi itu harus di ceritain toh? Selain untuk melatih rasa percaya diri sekaligus minta untuk di Amin-kan. Gak jarang juga Aku dianggap aneh karena rencana yang Aku punya emang gak biasa, tapi toh kalo Aku udah pengen sesuatu, gak ada orang yang bisa mendistraksi.

Last but not least, Aku bakalan tetap jadi orang yang sama. Yang punya jalan pikiran aneh dan mungkin bakal mentrigger kalian untuk bilang “Sumpah lo gila banget” —Temen-temen deketku pasti tau kelakuan aneh Aku apa aja hahaha. 

Terima kasih untuk semua orang yang tetap ada ataupun yang terlewatkan di hidup Aku dari usia 0 tahun hingga 23 tahun. I really enjoy every moment that happen in my life.

Dan untuk kamu yang sudah membaca tulisanku hingga kalimat terakhir ini, terima kasih banyak telah meluangkan waktunya. Semoga harimu menyenangkan dan terima kasih untuk tidak pernah menyerah 🙂

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s