Untuk yang Belakangan ini Terjadi

cafe-coffee-drink-6067

Sebenernya dari kemaren pengen banget ngomongin ini…

Baru-baru ini di Surabaya dan Sidoarjo terjadi sebuah kejadian yang sangat mengejutkan sekaligus bikin hati sedih, ya, kasus peledakkan bom. Serta kasus penusukkan di Riau. Dampaknya pun menjalar kemana-mana.

Ditambah lagi dengan beredarnya video di sosial media yang isinya wanita cadar dan di video lainnya seorang pria menggunakan pakaian koko dan sarung seolah di “presekusi” oleh petugas keamanan. Reaksi dari netijen pun bermacam-macam, ada yang merasa perilaku petugas keamanan itu menyakiti umat Islam, dan ada juga yang merasa bahwa tindakkan petugas keamanan itu semata hanya untuk menjalankan tugasnya.

Aku berpihak yang mana? Tentu yang kedua. Karena situasi sekarang ini bisa dibilang perlu untuk siaga dan waspada. Ditambah lagi dengan adanya klarifikasi dalam bentuk postingan seorang perwira tinggi polri di akun instagram pribadinya mengenai SOP teknik pemeriksaan anti terorisme, beliau menjelaskan bahwa pemeriksaan ini berlaku untuk siapapun tanpa memandang suku atau agama tertentu. Link disini. Dan mungkin saja, kebetulan video yang beredar itu ya yang seperti itu. Sehingga reaksi dari masyarakat pun semakin “membludak”.

Bagiku, kedua video yang beredar itu belum bisa menjelaskan apapun. Karena kita gak akan bisa menyimpulkan apa-apa hanya berdasarkan tayangan yang Cuma beberapa detik saja bahkan gak sampe 1 menit. Kita gak ada di lokasi, kita pun gak bisa nanya ke kedua belah pihak. Apapun yang kita sebar dan kita yakini tanpa tau kebenarannya, bukankah jatuhnya menjadi fitnah?

Aku mengerti, petugas keamanan pasti dalam posisi yang serba salah. Mereka dituntut untuk menjaga keamanan tetapi mereka dikritik ketika melakukan hal tersebut. Hal ini juga sempat dibicarakan oleh Dennis Adiswara di twitter dan twitnya sekarang lumayan ramai diperbincangkan. Link disini

Banyak yang sedih dengan adanya Islamophobia di negeri sendiri yang mayoritas muslim. Well, Aku agak kurang setuju dengan ini. Bagiku, Islamophobia adalah hal yang tidak pernah nyata. Stereotype ini disebar dan menjadi sebuah ketakutan tersendiri bagi umat muslim.

Aku jadi teringat beberapa tahun lalu, Aku masih main Couchsurfing. Kebetulan ada salah satu temanku dari Spanyol yang akan datang ke Bandung. Kami sudah lama mengobrol dan we have several things common. Sampai sehari sebelum si temenku dari Spanyol ini ke Bandung, Aku pun cerita ke satu sahabatku. Dan dia pun bilang

“Hati-hati ah Mon, orang bule kan rata-rata Islamphobia”

“Ah masa sih? Tau dari mana emang?”

“Iya lah, yang Aku liat di TV dan internet kan kaya gitu”

Oh oke, baik. Aku pun tetap mendengarkan saran temanku sebagai bentuk Aku menghargai kekhawatirannya.

Hari itu tiba, Dan Aku bertemu temanku ini di salah cafe yang lokasinya di Braga. Oh iya, disclaimer dulu nih ya, saat Aku bertemu temanku ini, Aku menggunakan khimar hitam dan gamis hitam. Karena emang Aku suka menggunakan pakaian berwarna gelap. Selain itu ketika kami ngobrol di WA, Aku gak menggunakan profile picture yang menunjukkan wajahku. Si temenku yang dari Spanyol ini sempet nanya kenapa gak ada wajahku di instagram ataupun di whatsapp, lalu Aku pun menjelaskan alasan pribadiku karena bagiku, dengan tidak menunjukkan wajah di sosial media hal ini akan membantu untuk “melindungi diriku”.

Dari semua disclaimer ini, rasanya sudah cukup untuk dikatakan bahwa Aku “cukup aneh” dimata orang bule.

Dan tebak, Ketika Aku ketemu dia, dia gak menunjukkan reaksi negatif. Dia tetap tersenyum dan menyapaku dengan hangat. Kita pun asik ngobrol ngomongin ini itu. Dia juga sempet nanya kenapa wanita muslim itu berkerudung, kenapa harus shalat, terus pandangan Aku tentang social issue di Palestina sana dan semacamnya.

Kita ngobrol lama banget dan saat sebelum berpisah dia bilang “You know what? You’re the first muslim’s person that i ever meet and you (orang yang menganut agama Muslim) don’t like what all of the news said. I’m so happy that i have a new insight about moslem. Nice to meet you Desmon”

Gak Cuma dia, beberapa temanku yang dari luar negeri dan ketika berkunjung ke Bandung pun mengatakan hal yang kurang lebih sama. Mereka sebelumnya gak pernah ngobrol in person sama orang muslim, tapi ketika mereka bertemu denganku, mereka ngerasa bahwa apa yang diberitain selama ini disana itu gak seperti kenyataannya.

Selain itu, dalam pergaulan pun Aku berusaha untuk membaur, terutama dengan teman-teman yang keyakinannya berbeda. Selama Aku mengenal mereka, ya kita adem ayem aja. Gak pernah yang namanya ribut karena perbedaan. Bahkan mereka-mereka inilah yang ngedukung banget ketika Aku memutuskan untuk berhijrah. Mereka pun antusias dan sering nanya ke Aku soal Islam. Semisal “Aurat itu apa?” “Kenapa di Islam ada Poligami?” “Kenapa ada lempar jumroh ketika naik haji?” “Kenapa di Islam gaboleh pacaran?” dan hal-hal lainnya.

Hal yang paling bikin terharu sih ketika ada seorang temanku (dia non muslim) cerita, kalo dia ketemu dengan stranger dijalan yang lagi ngendarain motor dan kebetulan lagi lampu merah. Si stranger ini berkerudung dan pake rok Cuma dia gak pake legging, jadi auratnya yang dari paha sampe mata kaki keliatan. Terus temenku ini dengan tiisnya negor stranger tadi dan bilang “Teh kalo pake rok, didalemnya pake celana panjang lagi ya lain kali. Aurat”.

Lalu setelah mendengar cerita temanku ini, Aku pun bertanya

“Kenapa kamu berani sih X (nama temenku) negor stranger kaya gitu?”

“Karena Aku selama ini liat kamu Mon, makanya Aku berani negur dia. Kan aurat, gaboleh tuh diliatin kaya gitu”

Dari sinilah, Aku menyadari bahwa sebenarnya kita tetap bisa kok berpegang teguh pada agama, menjaga tauhid dan keislaman kita tanpa terpengaruh sama sekali dan diwaktu yang bersamaan kita mengenal orang-orang diluar sana.

Kita tetap bisa berteman meskipun Aku pernah mengatakan kepada mereka kalo Aku gak akan pernah ngucapin hari-hari perayaan tertentu. Karena jika kita udah terjun ke society, ya yang orang kenal itu ujung-ujungnya behavior kita sendiri.

Bagiku, kerudung, celana cingkrang, gamis dan hal-hal lainnya yang Allah wajibkan dan Rasullullah sunahkan itu gak Cuma sekedar dipake. Ada nilai kewajiban yang harus kita lakuin. Dengan pake semua itu, kita gak akan bisa lagi ngomong sambil asbun (red: asal bunyi) dan bertingkah sesuka hati. Apa yang kita pake, merupakan nilai tanggung jawab. Apakah kita bisa menjaga apa yang telah Islam ajarkan atau tidak. Karena orang lain yang belum paham, gak akan pengen ngabisin waktu lama-lama untuk mengenal lebih dalam tentang kamu, mereka cukup liat apa yang kamu pake dan kelakuan-kelakuan kamu in a nutshell lalu mereka bisa punya kesimpulan sendiri.

Lalu, apa yang bisa kita lakuin ketika dihadapkan oleh semua hal ini secara beruntun? Jawabannya satu, perbaiki diri.

Kita jangan terlalu fokus dan membuang-buang waktu untuk terlalu fokus memikirkan teori-teori yang belum tentu benar. Kita pun, sebagai umat muslim udah jangan lagi berdebat tentang ustadz mana yang paling bagus, si itu kenapa pake cadar dan celana cingkrang, si ini kenapa ga pake doa qunut, si itu kenapa pas tahiyatnya beda, si anu kenapa pas keluarganya meninggal ga mau pake acara pengajian dan sebagainya dan sebagainya.

Karena, Inilah momentum yang tepat untuk kita memperbaiki diri, menjadi pribadi yang solutif instead Cuma marah-marah aja dan meributkan soal perbedaan-perbedaan. Kita itu satu, jadi tunjukkan bahwa apa yang selama ini kita yakini adalah agama yang damai.

Jangan jadiin alesan gak mau mendekatkan diri ke Agama karena takut menjadi teroris. Justru kita harus belajar dari sekarang hingga sampai akhir hayat, agar kita bisa merangkul saudara-saudara kita yang belum berhijrah ataupun yang memiliki pemahaman Islam yang “berbeda”.

Sederhananya, kita kenali dulu Allah, cari tau apa yang Allah perintahkan dan apa yang Allah larang. Belajar untuk melakukan semua perintahnya tanpa memandang “ini kok gini” “ini kok gitu”.  Udah deh, yakin dulu aja kalo Allah bakal ngasih yang terbaik untuk kita dan kita pun jangan jadi manusia yang ngerasa paling tau dan apa-apa pake logika.

Juga, cari ustadz yang dapat dipercaya. Yang perlu jadi catatan adalah, ambil yang baik dari pak ustadz dan buang yang buruk. Karena pak ustadz pun manusia biasa, ada salah dan khilafnya. Lalu, ajak perdalam agama bareng sahabat dan keluarga terdekat, biar kalo maju tuh bareng-bareng.

Selain itu bergaul dengan orang yang berbeda dengan kita dan jangan pernah setengah-setengah kalo dalam proses belajar ilmu agama. Pelan-pelan aja dulu, resapi dan aplikasiin.

Memang, diantara orang-orang yang lurus dalam mempelajari agama, pasti ada aja orang-orang yang “melenceng” dan berulah, contohnya para pelaku-pelaku di kejadian ini. Tapi jangan jadiin alesan kita untuk membenci mereka. Cukup doakan agar mereka disadarkan untuk kembali ke jalan yang lurus, dilunakkan hatinya dan dapat menjadi manusia yang memberikan manfaat untuk orang lain.

Terakhir, Jangan mudah percaya apa yang kita gak tau, jangan mudah nelen stereotype mentah-mentah. Kalo ada hal-hal yang mengganjal, kita bisa kok bertabayyun. Dan yang paling penting, jangan diem aja kalo nemu sesuatu yang dirasa keluar dari jalur, serta jangan mau dipecah belah.

Benar memang, kita hidup dijaman penuh fitnah, untuk itu disetiap kejadian apapun kita harus tetap berpikir jernih dan tetap melihat masalah dari semua sisi. Aku  selalu berharap, semoga Allah Azza Wa Jalla memberikan kita semua rahmat untuk senantiasa diberikan kekuatan dan keteguhan untuk tetap berpegang kepada agama. Menjalankan segala syari’at dan sunnah. Amin ya rabbal’alaamiin

 

One thought on “Untuk yang Belakangan ini Terjadi

  1. Bener banget, ibaratnya dengan kejadian ini ngerasa agak sedikit “minoritas” ditengah kemayoritas-an yang sebenernya. Hal ttg agama memang agak sensitif sekarang ini, kayanya banyak banget yang nyari celah perbedaan buat dijadiin pemecah belah di agama sendiri, sampe lupa kalo kita itu sesama saudara yang mestinya harus saling menghargai.
    Tulisan yang bagus, 🙂

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s