Menjadi Sederhana yang Tidak Sederhana

beautiful-beautiful-flowers-bloom-913416

Seminggu kemarin, motor yang menemaniku sejak kelas 2 SMA rusak. Sudah saatnya memang harus turun mesin, atau mungkin karena tidak Aku servis selama 2 tahun? Ah Aku tidak tau. Yang jelas, dengan menginapnya motorku di bengkel selama hampir satu minggu, membuatku harus menggunakan angkot sebagai sarana transportasi dalam menjalankan aktivitasku sehari-hari. Sesekali Aku menggunakan motor Kakak yang kupinjam jika hari itu memang kuliah. (Cikutra – Unjani Cimahi jauh, jadi gak memungkinkan menggunakan angkot)

Selama Aku menggunakan angkot, Aku menjadi mampu melihat apa yang terjadi di sekelilingku. Aku dapat bertemu dengan berbagai macam manusia dari latar belakang yang berbeda-beda, membuatku belajar untuk maklum sekaligus belajar untuk bagaimana memanusiakan siapapun manusia itu.

Selain itu, selama perjalananku menggunakan angkot, Aku tersadar bahwa kemacetan semakin terasa nyata. Aku tidak bisa membayangkan betapa sabarnya para supir angkot yang harus menghadapi hal semacam ini setiap hari, setiap waktu dan ah… membayangkannya sambil menulis kalimat ini pun Aku tak sanggup. Belum lagi suara klakson yang nyaring dari mobil-mobil pribadi ketika Angkot harus tiba-tiba diam ataupun telat untuk menancapkan gasnya ketika macet, kesabaran yang sungguh mahal harganya.

Sejenak Aku berpikir…

Jika kesuksesan adalah perihal tentang memiliki kekayaan, lalu…

Lahan di bumi segini-gininya, tapi semua orang ingin punya rumah tapak, ya gimana? Bakalan susah.

Lahan di bumi segini-gininya, tapi semua orang ingin punya mobil pribadi, ya gimana? Bakalan susah.

Sedih memang bahwa kenyataannya mindset dari kesuksesan adalah memiliki harta, seperti rumah tapak, mobil, dan selalu up to date untuk mengikuti “standar” hidup. Entah siapa pencetusnya, tetapi hal ini seperti sudah terpatri di setiap benak manusia, (ataukah ada yang tidak?).

Don’t get me wrong, even I’m not raised in consumtive family, tetapi sedari kecil ketika Aku menonton TV ataupun dari media yang lain, Aku sudah kekenyangan dijejali pemahaman bahwa kekayaan adalah perihal memiliki. Semakin mahal, semakin mewah dan semakin langka, artinya kaya.

Sampai saat dimana, Aku akan beranjak di umurku yang 22 tahun ini, spektrum tentang hidup pun mulai berubah total. Kesuksesan itu tidak sama dengan kekayaan. Aku mulai sadar bahwa dunia sudah sangat sesak dipenuhi dengan manusia-manusia yang berusaha mengejar harta dan hal-hal duniawi lainnya, semua pencapaian pada akhirnya terlihat sama, karena melulu soal yang itu-itu saja. Untuk itulah, bagiku, menjadi sederhana adalah pencapaian tertinggi dalam kehidupan.

Karena pada nyatanya, menjadi sederhana ditengah hiruk pikuk orang yang berebut mengejar dunia saja tidaklah mudah.

Hal itulah yang sempat Aku rasakan, bagaimana untuk tetap berpegang teguh pada keyakinan disaat lingkup sosial menggodaku dari berbagai penjuru untuk membuatku goyah. Tetapi pada akhirnya, semua itu kembali lagi ke konsep dasar,

“Mengapa Aku ingin menjadi seorang yang sederhana?”

“Karena itulah yang selama ini diperintahkan oleh Allah SWT dan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW”

“Mengapa Aku ingin menjadi seorang yang sederhana?”

“Karena dunia adalah seindah-indahnya tipu daya yang tidak akan pernah habis untuk dikejar. Semakin tenggelam, semakin lupa bahwa sebenarnya apa tujuan dari hidup”

“Mengapa Aku ingin menjadi seorang yang sederhana?”

“Karena Aku hanya ingin merasa cukup. Tidak lebih dan tidak merasa kurang. Tidak terlalu rakus dan ambisius.

“Mengapa Aku ingin menjadi seorang yang sederhana?”

“Karena Aku ingin menikmati setiap proses dari setiap aspek dalam hidup. Tanpa terdistraksi dengan apapun”

Ada banyak pandangan dari kacamata yang berbeda mengenai konsep sederhana. Sederhana bagiku belum tentu bagi orang lain. Tetapi intinya adalah semakin besar keyakinan tentang sebuah kesederhanaan, maka semakin hilang selera untuk berorientasi pada dunia. Pada akhirnya, mengikhlaskan sesuat bukan hal yang sulit lagi, karena inti dari semua ini adalah kita semua sadar bahwa apa yang selama ini ada di sekeliling kita hanyalah titipan, kita hanya diperintahkan untuk menjaga, jangan serakah dan harus selalu berbagi, dunia hanya sebentar, jangan terbelenggu dengan hingar bingar dunia, persiapkan semua dengan baik, tau kapan harus merasa cukup,  terakhir… jadilah sederhana meskipun mampu untuk melakukan hal yang lebih.

1

IMG_7590

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s