Cerita dibalik Kemudi

IMG_2043.JPG

Pada hari Minggu, 11 Maret kemarin, seperti biasa Aku dan Reina datang ke kajian, untuk kali ini kami tidak berdua saja, namun sekarang ada Mira. Sepulang dari Kajian, kami bertiga pun sepakat untuk ke Balubur Town Square, karena ada hal yang harus dilakukan disana. Waktu menunjukan pukul 15:00, saatnya kami bertiga harus berpisah. Mira dan Reina melanjutkan kegiatannya ke Masjid Salman ITB, sedangkan Aku pulang kerumah.

Seperti biasa, setiap weekend Aku mencoba membiasakan diri untuk naik kendaraan umum. Karena selain ingin tidak berpartisipasi dalam kemacetan Bandung dikala weekend, Aku pun merasa rindu dengan vibes naik kendaraan umum. Setelah Reina dan Mira pergi, tinggalah Aku sendiri di Baltos, karena berhubung sudah dekat dengan waktu Ashar, Aku pun sholat dulu di musholla Baltos.

Setelah itu, Aku bergegas keluar sambil sesekali memperlambat langkahku ketika melihat toko yang menjual kerudung ataupun pakaian yang menurutku lucu, hehe. Tibalah Aku diluar Baltos, Aku tepat berada di pinggir jalan, menunggu angkot Caringin – Sadang Serang. Namun, sekitar 10 menit, angkotnya tidak kunjung lewat juga, jalanan pada saat itu macet sekali, saking macetnya, jalan arah wastu kencana menuju taman sari yang seharusnya dua jalur, menjadi tiga jalur. Karena Aku bosan menunggu terlalu lama, Aku pun memutuskan untuk jalan kaki menuju Wastukencana, ya itung-itung nunggu angkot juga, daripada Cuma diem doang. Namun ternyata setelah Aku berjalan dari Wastukencana menuju UNISBA, angkot Caringin itu pun tidak kunjung lewat juga, itu artinya Aku harus berjalan kaki lebih jauh lagi.

Alhamdulilahnya, ketika sudah sampai Wastukencana, angkot Caringin pun lewat, penumpangnya tidak begitu banyak namun tidak begitu sepi juga. Akhirnya Aku pun memilih duduk didepan, karena biar gausah geser-geser lagi, kalo duduk dibelakang. Jalanan pada saat itu macet sekali, ah entahlah, Bandung ketika weekend memang gak masuk akal macetnya.

“Pak, kenapa ya tadi Saya nunggu di depan Baltos kok angkot Caringinnya gak lewat-lewat?” Tanyaku untuk memecah kebosanan, ya, karena macet itu sangatlah membosankan.

“Oh iya neng, angkot-angkot pada muter arah, soalnya daerah sana macetnya gila, parah banget” Jawabnya santai

“Pantes aja pak, saya jadi harus jalan dulu deh sampe Wastukencana, hehehe” Ujarku yang mulai mencari HP di tas, untuk melihat jam berapa sekarang.

“Ah neng, macet-macet kaya gini teh kadang suka bikin rugi supir angkot. Yang harusnya dalam sehari itu dapet 4 rit, sekarang mah cuma 1 atau 2 rit aja. Ya gimana engga neng, sekali narik 1 rit aja kadang pernah sampe 8 jam karena saking macetnya” Ucap sang Bapak supir angkot

“Masa pak? Sampe 8 jam? Di jalan? Wah lama banget ya”

“Iya neng, ya masih mending lah kalo dalam 1 rit teh penumpangnya full, kalo enggak ya kan rugi. Kerja udah pol-polan lah istilahnya, ai pendapatan ga seberapa. Jaman dulu sih enak, sekali narik tuh sehari bisa dapet 100 ribu, sekarang mah dapet 50rb aja udah syukur neng”

Aku pun diam, menyimak apa yang bapak supir itu bicarakan. Seketika, Aku jadi malu pada diri sendiri, terkadang Aku dengan entengnya makan dengan harga minimal 50rb ketika berada di Mall, namun di belahan sisi kehidupan yang lain, ada yang sebegitu susah payahnya demi mendapatkan uang 50rb dalam sehari. Aku merasa malu, sangat malu.

“Ya makanya neng, udah gak heran lah sekarang mah supir angkot teh banyak yang duda. Soalnya da dirumah juga sering cek cok soal kurangnya uang harian. Ada istri yang selingkuh lah, ada istri yang gak kuat lah dengan pendapatan semakin berkurang. Ya kalo gitu kan, korbannya pasti ke anak neng. Kasian kalo udah bercerai, anak jadi kurang perhatian, ada sesuatu yang hilang dari hidupnya. Belum lagi sekarang pendidikan mahal, makanya banyak pengangguran dan kriminal” Ujar Bapak Supir dengan ekspersi wajah yang sedikit sedih.

Aku pun paham dengan maksud cerita dan ekspersi beliau.

Lalu Aku bertanya “Menurut bapak, kenapa sih sekarang bisa berubah drastis gitu? Apa karena banyak kendaraan dijalan?”

“Ya bener, salah satunya banyak yang pake kendaraan pribadi. Tapi selain itu, ya sekarang udah banyak juga neng ojek online”

“Apa pendapat bapak tentang ojek online? Bener ga sih menurut bapak, ojek online ini bikin pendapatan turun drastis?” Tanyaku lagi

“Saya percaya sih neng, rejeki udah ada yang ngatur. Saya dan ojek online ini punya jalannya masing-masing, ya cuma Saya ngerasa gak adil aja dengan peraturan pemerintah”

“Loh emang kenapa dengan peraturan pemerintah pak?”

“Gini neng, nyupirin angkot itu gak gampang. Harus kerja minimal 5 tahun dulu buat diangkat jadi supir tetap. Belum lagi harus bayar kartu keanggotaan, harganya 2 juta neng. SIM supir angkot dan yang lainnya pun beda, otomatis biaya perpanjangannya juga beda, lebih mahal lah. Terus, harus uji KIR dan peremajaan angkot. Belum lagi, supir angkot itu harus ngemudiin mobilnya sesuai trayek, kalo melenceng dari trayek, wah udah, bisa ditilang neng”

Akupun terdiam kembali, menyimak apa-apa yang sudah dikatakan sang bapak Supir

“Terus ya neng, kalo mau bawa mobil keluar kota, harus punya surat jalan neng. Kalo engga, bisa ditilang. Ya bener juga sih surat jalan teh bisa jadi penyelamat kalo misalnya amit-amitnya kecelakaan, bisa dibayarin sama pemerintah biaya rumah sakitnya. Tapi intinya, supir angkot teh banyak banget aturannya. Beda dengan ojek online yang bebas banget trayeknya”

“Kalo surat jalannya dimana pak bikinnya?” Tanyaku

“Bikinnya di kantor polisi neng. Ya intinya, itulah kenapa banyak supir angkot yang demo neng. Karena merasa gak adil. Kami udah ngikutin peraturannya, tapi ketika ada yang gak ngikutin (Red: Ojek online), dibiarin aja. Makanya Saya mah berharap pemerintah teh lebih adil lah, jangan cuma menekan satu pihak aja”

Penjelasan dari beliau benar-benar menambah insight, Aku baru tau kalo menjadi supir angkot itu ternyata sebegitu rumitnya, gak semudah yang Aku bayangkan. Mungkin yang berseliweran dimana-mana adalah kisah-kisah tentang para ojol, namun ketika Aku mendengar curhatan dari bapak supir angkot, Aku bisa melihat dari kedua sisi.

“Ya makanya neng, Saya juga sebenernya suka sedih dengernya kalo ada bentrok antara supir angkot dan ojek online. Saya juga kadang heran, apakah kita teh sebenernya lagi di “adu” atau gimana”

Tak terasa, perbincangan ini mencairkan kebosanan ketika macet dijalan, tau-tau udah ada di daerah patung Husein aja. Perbincangan pun menjadi terhenti sementara ketika ada penumpang yang bilang Kiri.

“Dari mana a?” tanya Bapak Supir angkot

“Dari Ksatriaan pak, ini pak” Ujar anak muda itu, usianya sekitar 20 tahunan, sambil memberikan uang Rp 4000

“Waduh, Saya gak ada kembalian a, Saya baru narik”

“Duh gimana ya pak, Saya gak ada uang receh” Ujar anak muda itu kemudian

Ku kira, dengan penampilan rapih si anak muda ini -ya maaf jika Aku terlalu cepat menilai seseorang berdasarkan penampilan, Ia akan memberikan uang Rp 4000nya dan menganggap uang Rp 1000nya itu adalah sekedar memberi. Karena kondisi angkot pada saat itu tidak begitu penuh.

“Yaudah lah a, 2000 aja gapapa” Ucap bapak Supir dengan senyum ramah

Si anak muda itu pun memberikan 2000, tanpa terima kasih, dan Ia pun segera pergi. Dugaanku salah.

Angkot pun kemudian melanjutkan perjalanannya, suara Kiri pun terdengar lagi ketika berada dekat rel kereta api. Seorang bapak-bapak muda mengenakan kemeja rapi. Ia pun turun dan memberikan uang Rp 20.000

“Ti mana pak? Aduh punten teu aya receh”

“Dari jalan Bima pak”

“Yaudah lah pak, bapak punya uang berapa? Saya gapunya receh banget soalnya, baru narik”

Bapak itu pun merogoh sakunya, dan mengeluarkan uang Rp 2000

“ya, gapapa pak 2000 aja” Ujar bapak sopir Angkot sambil tersenyum

Setelah bapak muda berpakaian rapi itu memberikan uang Rp 2000, kemudian Ia melengos pergi, lagi-lagi tanpa mengucapkan terima kasih.

“Bapak baru narik ya?” Tanyakku sambil melihat uang didekat kemudi mobilnya yang masih sangat sedikit

“Iya neng, bapak baru narik, baru narik se-rit neng. Soalnya bapak tadi disawah dulu, ya lumayan itung-itung nambah penghasilan lah. Tapi tadi gara-gara pas disawah ga hati-hati, tangan bapak ketojos bambu runcing neng, tuh liat” Ujar Bapak Supir angkot sambil menunjukkan tangan kanannya yang penuh dengan perban.

Seketika Aku miris, miris kenapa sekarang banyak orang yang kurang rasa berempati, rasa-rasanya dengan keadaan penumpang angkot yang tidak penuh bisa dijadikan spekulasi bahwa kita sebagai penumpang jangan terlalu berat memberikan sekedar uang lebih. Atau setidaknya, jangan pernah lupa dengan tiga kata, maaf, terima kasih dan tolong.

Lalu, Akupun merasa salut dengan bapak supir angkot ini, memberikan senyuman kepada penumpang yang mungkin sebenarnya “merugikan” si bapak ini. Beliau begitu sabar, dan dari kalimat-kalimat yang Ia ucapkan, Ia tetap sadar bahwa rejeki sudah ada yang mengatur. Untuk itulah kita, sebagai manusia harus tetap berusaha.

Dengan segala macam obrolan dengan bapak supir angkot ini, Aku merasa bersyukur karena mendapatkan hal yang baru, yang membuatku untuk tetap bersyukur, dan juga untuk terus berempati terhadap orang lain. Pelajaran yang sangat mahal, yang Aku didapatkan di Sabtu sore, sebuah cerita dibalik kemudi.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s