Yang Terlupakan

IMG_7014.JPGJumat sore, tanggal 2 Maret, hari dimana Aku merasa harus buru-buru pulang. Setelah jam 5 teng, Aku bergegas mematikan komputer di meja kerja, absen dan menyalakan motor untuk segera pergi. Alhamdulillah, jalanan pada saat itu memang macet, tetapi Aku tidak terlambat sampai rumah. Di rumah, Aku pun mengeluarkan laptop dan printilannya dari tas, serta memasukkan pakaian serta daily product untuk wajah. Setelah sholat dan makan, Aku pun memesan ojek via grab untuk mengantarku ke kampus, karena waktu sudah menunjukkan pukul 18:30.

Akhirnya drivernya pun sampai depan rumah dengan telat, Aku pun pamit kepada dua orangtuaku. Sang driver memacu motornya dengan sangat pelan, membuatku sedikit risau karena dosen mata kuliah itu sudah tiba dikelas. Mungkin banyak yang bertanya-tanya mengapa Aku harus pulang kerumah dulu? Ya karena sabtu pagi Aku akan menghadiri seminar teknik sipil di salah satu hotel jalan Asia Afrika. Lalu, karena tiap mata kuliah dosen tersebut pulangnya selalu diatas jam 10 malam, (meskipun kelas seharusnya sudah selesai dari jam 9 malam sih), dan Aku takut jika ada begal jika pulang kerumah selarut itu, akhirnya Aku menginap disalah satu kosan temanku, yang kebetulan dekat dengan stasiun kereta Cimahi.

Jam menunjukkan pukul 19:15, Aku terlambat 15 menit. Dengan tergesa-gesa Aku masuk kelas dan duduk di belakang, sebuah pilihan yang ternyata Aku sadari adalah pilihan yang salah. Bapak Dosen tersebut mengajar dengan penuh semangat. Slide demi slide di power point Beliau jelaskan, namun entah kenapa Aku merasakan kantuk yang luar biasa, menatap slide selama 30 menit setelah kedatanganku saja membuatku benar-benar bosan. Apalagi dengan duduk di bangku belakang, membuat kondisi ini semakin pas untuk memainkan handphone.

Akhirnya Aku pun memainkan game di handphone, Aku bermain beberapa babak. Begitu asyik Aku bermain hingga seorang teman kelasku mengangkat tangan “Pak kelas ini selesai sampai jam berapa ya? Karena sudah lewat dari jam 9 malam”. Seketika Aku pun berhenti bermain game ludo dan mengangkat kepalaku , melihat sekeliling yang sedari tadi terpaku menatap layar handphone. Lalu mataku berakhir melihat Bapak Dosen, wajahnya yang ketika awal Aku masuk kelas begitu semangat, berubah seketika menjadi sedih dan kecewa. Setelah itu, tak lama kemudian kelas pun usai. Mahasiswa pun pulang pada pukul 21:30 malam.

Selama perjalanan pulang, Akupun tiba-tiba merasakan perasaan yang aneh, tidak, Aku sama sekali tidak menyalahkan temanku, Aku lebih menyesalkan diriku sendiri. Yang terlalu egois mementingkan keinginan sendiri, yang merasa telah begitu capek dan berjuang hingga tiba berada di dalam kelas. Seakan-akan lupa perjuangan Bapak Dosen tersebut jauh lebih besar daripada Aku yang sekedarnya. Beliau sudah berumur, bekerja di Jakarta dan Ia harus menempuh perjalanan Jakarta – Bandung setiap hari jumat menggunakan kereta api hanya untuk mengajar di kelasku. Meskipun beliau tidak menyuruh mahasiswanya untuk memperhatikannya secara lisan, pasti jauh di lubuk hatinya, Ia ingin sekedar di dengarkan. Tetapi tidak termasuk diriku, Aku lupa bahwa mendengarkan adalah salah satu cara untuk menghargai seseorang. Membayangkan apa yang terjadi di dalam kelas, membuatku malu pada diriku sendiri. Aku merasa perjuanganku untuk sampai dikelas pun rasanya sia-sia, karena Aku tidak mendapatkan apa-apa, kecuali hanya rasa penyesalan.

Dua hari kemudian, tepat di hari minggu, Aku dan keempat temanku janjian di selasar Masjid salman ITB untuk mengerjakan tugas bersama. Hari itu Aku putuskan untuk menggunakan kendaraan umum saja, karena Aku merasa capek jika harus mengendarai kendaraan sendiri dan merasa malas juga, jika harus bermacet-macetan di motor. Bagaimana dengan seminar pada hari Sabtu kemarin? Alhamdulillah sangat berkesan, hehe.

Sebenarnya sih, Aku sudah berkomitmen kepada diri sendiri, ketika weekend dan ingin bepergian, menggunakan kendaraan umum saja. Karena selain mengurangi kemacetan di jalan, Aku rindu juga dengan suasana naik turun angkot yang memberiku banyak pelajaran. Gimana engga? Naik angkot itu sans, kalo macet, kita bisa tidur, Kalo bosen bisa baca buku, Kalo laper bisa sambil makan, tapi jangan lupa ya tawarin orang di samping kiri kanan dan depan kita. Selain itu, naik angkot pun mengajarkan Aku untuk mampu memanage waktu dengan baik, misalnya kalo ada acara jam 9, maka dari rumah harus berangkat jam 6 biar gak kena macet dan terlambat. Serta, dengan naik angkot melatih kita untuk bersabar, iya, bersabar kalo mamang angkotnya lagi ngetem. Maklumin aja, beliau kan sedang mencari nafkah, hehe.

Selama dua hari ini, Saat sabtu dan minggu Aku naik angkot, sebenernya sih ga angkot doang, Aku pun naik KRD dan Damri juga. Aku merasa nostalgia aja gitu, ngerasain lagi nikmatnya naik kendaraan umum. Badan pun jadi gak cape dan gak mesti hujan-hujanan seperti saat Aku naik motor.

Namun, yang membuatku merasa sedikit sedih adalah, selama dua hari belakangan Aku naik angkot, Aku selalu berada di dalam angkot yang sepi penumpang. Penumpangnya pun paling banyak hanya lima orang. Mendengarkan keluh kesah bapak supir angkot pun membuat hatiku merasa sangat sedih. Ditambah lagi, ketika Aku turun dari angkot di depan Borma Melong Green, yang awalnya Aku merasa begitu tenang karena waktu masih menunjukkan pukul 17:00, which is angkot yang menuju ke komplek rumahku seharusnya masih ada, karena dulu, ketika Aku masih sekolah, Angkot ini mangkal di depan Borma sampai pukul 18:00. Namun betapa kagetnya diriku ketika setibanya disana, tidak ada satupun angkot biru muda yang mangkal, Aku pun bertanya kepada bapak-bapak yang biasa mengatur lalu lintas disana.

“Pak, Angkot yang biru muda kemana ya?”

“Wah neng, udah ga ada atuh jam segini mah, pake ojek aja atuh neng”

“Oh gitu ya pak, maaf terima kasih, enggak pak. Saya naik angkot yang didepan aja” jawabku yang kemudian bergegas untuk berjalan kaki hingga pertigaan untuk naik angkot biru tua, sebenarnya angkot ini pun sama-sama mengantarku ke komplek rumah. Namun jika naik angkot ini, Aku harus berjalan jauh karena rute ketika turun angkotnya yang berbeda dengan angkot biru muda.

Sepulangnya Aku dirumah, Aku pun bertanya ke Ayahku

“Pah, angkot biru muda kenapa sih jam 5 sore udah ga ada?”

“Lah emang udah ga ada. Lagian kata supirnya juga udah ga ada penumpangnya, jadinya jam 5 udah ga mangkal di depan Borma lagi”

“Bukannya dulu mah sampe jam 6 sore ya?”

“Ya itumah kan dulu, sekarang udah beda”

Akupun terdiam. Ternyata terlalu banyak hal-hal yang terlupakan olehku, hal yang pernah menjadi bagian dari hidupku yang tanpa sadar telah banyak berubah. Aku begitu sibuk dengan duniaku dan segala kesibukanku sendiri tanpa sempat melihat sekeliling, bahwa ada orang-orang diluar sana yang luput dari perhatianku, dan parahnya, Aku tidak berbuat apa-apa.

Dari beberapa hari belakangan ini, jumat, sabtu dan minggu, telah menyadarkanku, bahwa banyak hal yang terlupakan, mulai dari belajar untuk mendengarkan dan peduli dengan keadaan sekitar. Ternyata tugasku sebagai manusia masih banyak, masih banyak pula kesalahanku sebagai manusia. Tertampar dengan apa yang Aku lihat dan Aku alami, membuatku harus belajar dari kesalahan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s