Clean Up Your Mess!

2018-02-25 14_27_32.806.jpg

Setiap makan, pernah ga sih risih pas ngeliat keadaan kaya foto di atas? Entah kenapa rasanya persenan selera makan langsung turun perlahan ketika melihat sesuatu yang berantakan.

Belum lagi, meja yang basah kena tumpahan makanan, kursi yang tidak pada tempatnya, piring berserakan inilah yang menyulitkan para pramusaji untuk membereskan makanan.

Mereka harus membereskan piring, mengelap meja yang basah dan menaruh kursi pada posisi semula. Dari step yang panjang ini, kebayang ga sih bikin menyulitkan pramusaji?

Iya kalo kasus ini Cuma satu meja doang, kalo keadaan tempat itu sedang rame-ramenya dan semua pengunjung yang udah beres makan ninggalin meja dalam keadaan berantakan, belum lagi waiting listnya panjang banget, kan kasian pramusaji itu harus bekerja keras berkali-kali lipat Cuma buat ngeberesin bekas makanan pengunjung.

Hal itulah yang selalu menjadi pemandangan sehari-hariku sejak kuliah di Polban. Kebayang kan mahasiswa di Polban itu sebanyak apa? Dan mereka makan di pujasera yang luasnya ga mampu mengakomodir jumlah mahasiswanya. Otomatis di jam-jam istirahat, para pramusaji atau hmm penjual makanan kali ya, ya intinya penjual makanan disana kelimpungan banget. Rasanya ga tega aja gitu, ngeliat mereka yang didominasi bapak dan ibu-ibu setengah baya harus repot nganterin makanan, ngeberesin makanan sekaligus masak juga. Belum lagi meja yang dalam keadaan kotor bikin mahasiswa lain yang mau makan tuh jadi ga selera dan menghambat juga.

Untuk itulah, sejak tingkat tiga, Aku sok ide aja gitu setiap beres makan, piring bekas makannya di balikin lagi ke penjual dan ninggalin meja dalam keadaaan bersih. Respon dari para penjual makanan di pujas pun positif, mereka sangat merasa terbantu ketika piringnya dibalikin lagi, sampe bilang “Aduh si eneng ulah repot-repot atuh”, mendengar hal itu Aku hanya tersenyum kecil. Penjual senang karena merasa terbantu, Aku pun juga senang melihat Ibu penjual senang.

Anyway, yang membuat Aku suka kuliah di Polban adalah setiap dosennya memberikan pelajaran tentang attitude. Salah satu hal yang akan selalu Aku ingat adalah ketika mata kuliah wirausaha, Pak Yulianto dan Pak Hendri selalu memberikan nasihat kepada mahasiswanya, jika meninggalkan suatu tempat, usahakan tempat itu rapi dan bersih seperti saat pertama kali Kamu datang. Kursi kelas yang sudah dipakai, harus dikembalikan pada posisi semula, sehingga para petugas kebersihan tidak akan kerepotan ketika membersihkan kelas. Begitulah nasihat yang paling terngiang-ngiang dalam pikiranku dan selalu Aku terapkan hingga sekarang.

Dari kebiasaan-kebiasaan tadi, tak jarang Aku kena ceng-cengan temen-temen atau keluarga pas makan, seperti

“Ngapain sih diberesin kaya gitu? Ntar juga ada yang beresin”

“Gak sekalian aja piringnya lo cuci mon?”

“Gak apa-apa kali, kan kita udah bayar mereka”

Namun semua ceng-cengan itu bagiku hanya masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan. Aku memberikan pengertian “Gak apa-apa, kasian nanti waittersnya kerepotan, terus pengunjung yang lain khawatirnya risih liat meja berantakan. Seenggaknya bantu dikit-dikit”

IMG_9288.JPG

A long story short, sepertinya orang-orang yang makan denganku pada akhirnya lama-lama pun mengerti dan mereka pun ikut membantu membereskan meja ketika selelsai makan. Kursi yang awalnya berantakan pun ditempatkan dalam keadaan semula. Yang paling amazed sih Ibuku, karena keseringan membantuku membereskan piring ketika selesai makan, beliau lama-lama jadi kebiasaan dan risih sendiri kalo selesai makan tapi mejanya berantakan. In the end, ibuku yang kebetulan berprofesi sebagai guru pun menasehati para siswanya untuk selalu tidak membiarkan bekas makan dalam keadaan berantakan dan rapikan kembali seperti saat pertama kali datang.

Memang, tindakan kecil tapi memiliki banyak arti. Dengan melakukan ini, sama saja kita menghargai pekerjaan para pramusaji yang sudah membantu mengantarkan makanan untuk kita, dan tidak membiarkan mereka kerepotan. Memang kita telah membayar mereka secara tidak langsung lewat bill makanan yang telah kita lunasi, tapi bukan berarti kita bisa berprilaku semena-mena. Selain itu, kita pun menghargai para pengunjung yang akan atau sedang makan disana agar tidak terganggu dengan meja bekas makan kita yang berantakan. Jika kebiasaan ini terus dilakukan dan pada akhirnya menyebar, bukankah akan menjadi lebih indah? Kita sama-sama menjadi pribadi yang saling menghargai satu-sama lain.

2018-02-24 13_31_34.748 (1).JPG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s