Minimalist, Be More With Less

IMG_2057.JPG

Kurang lebih sekitar 1,5 tahun Aku belajar mengganti lifestyle menjadi minimalist. Tbh, Aku kurang tau sih apakah minimalist lifestyle ini lagi terkenal atau gimana, pun kalo lagi terkenal bukan semata-mata Aku mengikuti trend yang sedang ada. Namun lebih keinginan untuk menyederhanakan segala aspek dalam hidup Aku. Dengan menjadi minimalist, Aku tidak perlu lagi terdistraksi dengan hal-hal yang tidak penting, tidak menjadi manusia yang posesif, less consumtive dan less obligation juga.

Semua berawal dari Aku yang merasa overwhelming dengan keadaan sekitar dan diri ku sendiri. Baik itu apa yang Aku lihat maupun apa yang Aku rasakan.

Gini misalnya, Aku, kamu dan kita semua pernah muda. Ya meskipun sekarang Aku masih muda sih *uhuk*. Tapi ada kalanya pada saat masa muda itu, Aku terlalu memikirkan hal yang tidak perlu, memperumit hal-hal yang sebenarnya bisa teratasi dengan pemikiran yang sederhana. Seperti benang yang tergulung rapi, lalu Aku lepaskan dari gulungan itu, menarik hingga habis dan membuatnya berantakan. Untuk itu, yang sekarang Aku sadari, konsep sabar, legowo dan sadar bahwa kita tidak bisa selalu mengontrol semua hal dibawah kendali apa yang kita inginkan sangatlah penting. Sesederhana itu.

Selain itu, sebagai manusia biasa, seringkali Aku pusing sendiri ketika melihat barang-barang, pakaian, buku yang sebenernya ga penting-penting banget tapi masih tersimpan di dalam kamar. Kalo kamarnya berantakan, butuh waktu lama untuk membereskan semuanya. Karena jika kamar yang berantakan di diamkan, akan membuatku rungsing sendiri.

Untuk itu, demi mengatasi rasa rungsing, Aku memutuskan untuk belajar keras pada diriku sendiri. Aku gak boleh posesif terhadap benda-benda mati di dalam kamar yang hanya bisa Aku nikmati sendiri tanpa memberikan manfaat untuk orang lain.

Semua Aku mulai dari pakaian, Aku mencoba mengumpulkan pakaian yang kiranya tidak pernah dipakai at least 1 bulan sekali dan hasilnya? Wow banyak juga ya. Ternyata selama ini Aku menimbun pakaian yang sangat jarang sekali Aku pakai, kalo dipikir-pikir, rasanya mubazir juga. Selain pakaian, buku yang sudah tidak Aku baca lagi seperti novel dan komik, boneka dan pajangan pun tak luput Aku kumpulkan. Setelah semua Aku kumpulkan, satu persatu Aku masukkan kedalam dus dan mengirimkannya untuk di donasikan.

Tentunya saat memisahkan barang-barang itu, terbesit dalam hati

“Mon, yakin mau disumbangin? Ini kan bajunya masih bagus. Sayang loh”

“Boneka dari temen kamu mau disumbangin? Sayang banget. Kasian dia udah ngasih cape-cepe”

“Bukannya kamu suka Conan? Kok sayang sih action figurenya dikasihin?”

Tapi semua pertanyaan hasutan yang terbesit dalam hati pun tak Aku pedulikan. Setelah memilah, packing dan ngirim barang yang kurang lebih membutuhkan 2 minggu, akhirnya Aku melihat sesuatu yang berbeda dari kamarku. Kamarku yang sekarang terlihat kosong, dengan barang-barang lebih sedikit, sehingga Aku tidak perlu lagi effort untuk membereskan ketika berantakan. Lah wong udah ga ada barangnya. Hehehe.

Selain itu, Aku pun jadi lebih cepat untuk bersiap-siap, karena pakaian yang Aku milikki sekarang, tidak terlalu banyak bahkan jauh lebih sedikit. Lalu, setelah Aku membuat komitmen untuk diri sendiri, yaitu setiap 1 barang yang Aku beli, harus ada 1 barang yang keluar dari kamarku, membuatku jarang sekali membeli hal yang tidak perlu. Sehingga, membuatku tidak menjadi boros. All in all, I just buy what I really need.

Nah, kalo ditarik kesimpulannya, berikut ini adalah manfaat-manfaat yang Aku rasakan ketika menjadi seorang minimalist. Of course, I’m not an expert, but I just wanna to share.

Memori tidak akan abadi di dalam sebuah barang

Percayalah, apa yang ada di dunia ini tidak akan abadi. Siapa yang hidup, akan mati. Termasuk benda mati itu sendiri, pasti ada saatnya barang tersebut rusak. Entah dimakan rayap, berjamur dan sebagainya. Aku lebih percaya anugerah yang telah Allah berikan kepada setiap manusia, sebuah ingatan dan hati yang tidak akan pernah habis spacenya untuk mengenang memori-memori yang telah dialami.

Ga usah kebanyakan mikir

Dengan menjadi minimalist, Aku ga perlu lagi kebanyakan mikir dan mengingat soal apa yang telah Aku punya. Misalkan baju yang terselip entah kemana, buku yang kemarin ada di rak tiba-tiba menghilang ataupun ketika menghadapi suatu masalah. Dengan menyederhanakan sesuatu, justru sangat mempermudah diriku untuk mikir hal-hal yang gak perlu.

Ga buang-buang waktu

Yang paling kerasa adalah, waktuku menjadi gak terbuang hanya untuk membereskan kamar, mencari barang yang hilang dan bersiap-siap. Ga Cuma itu sih, keinginan untuk window shopping, yang mana menyita waktu paling lama pun sudah tidak ada lagi. Sehingga waktu yang Aku milikki dapat diisi dengan hal lain yang jauh lebih bermanfaat.

Bersikap posesif itu melelahkan

Yup, posesif itu bikin cape guys. Berapa banyak barang yang ga jadi dibuang hanya karena alesan “ah siapa tau masih butuh”, yang justru ujung-ujungnya malah bikin pusing sendiri. Jika terlalu posesif, kita tidak akan pernah menikmati nikmatnya sebuah seni dari keikhlasan.

Ga lagi menjadi pribadi yang konsumtif

As i told you before, Aku memiliki komitmen untuk setiap 1 barang yang Aku beli, harus ada 1 barang yang keluar dari kamarku. Dari komitmen ini, membuatku tidak lagi menjadi pribadi yang konsumtif, yang membeli sesuatu berdasarkan trend semata. Tentunya seperti yang kita semua tau, bersikap terlalu konsumtif akan berakibat pada kondisi keuanganmu yang menjadi boros. Padahal kalo uang itu dialokasikan misalnya untuk bersedekah, akan jauh lebih bermanfaat dibanding hanya dinikmati seorang diri.

Be more with less

Menjadi minimalist, berarti be more with less. Jika dikaitkan, Rasulullah pun mengajarkan kesederhanaan dengan cara be more with less. Beliau tidak pernah silau akan kenikmatan duniawi. Ada tiga hal yang Aku dapat tarik kesimpulan dari kesederhanaan Nabi Muhammad SAW, yaitu mengutamakan akhlak, lebih mementingkan orang lain dibanding diri sendiri serta senantiasa belajar.

Kisah kesederhanaan Nabi Muhammad SAW diceritakan dalam sebuah hadist betapa beliau tidak memiliki keinginan untuk menumpuk harta, padahal, jika beliau mau akan sangatlah mudah. Diceritakan pada suatu hari, Umar bin Khattab berkunjung ke rumah Nabi Muhammad SAW, ketika masuk kedalam rumah, Umar terdiam melihat isi rumah Rasulullah SAW, karena yang ada hanya sebuah meja dan alasnya terbuat dari jainan daun kurma yang kasar, lalu di dinding hanya tergantung geriba (tempat air) yang biasa digunakan oleh Rasulullah SAW untuk berwudhu.

Lalu Umar merasa terharu dan tanpa sadar membuat Ia meneteskan air mata, Rasulullah SAW pun menegurnya dan bertanya “Gerangan apakah yang membuatmu menangis?” Umar pun menjawabnya, “Bagaimana aku tidak menangis Ya Rasulullah? Hanya seperti ini keadaan yang kudapati di rumah Tuan. Tidak ada perkakas dan tidak ada kekayaan kecuali sebuah meja dan sebuah geriba, padahal di tangan Tuan telah tergenggam kunci dunia Timur dan dunia Barat, dan kemakmuran telah melimpah.” Lalu beliau menjawab “Wahai Umar aku ini adalah Rasul Allah, Aku bukan seorang Kaisar dari Romawi dan bukan pula seorang Kisra dari Persia. Mereka hanya mengejar duniawi, sedangkan aku mengutamakan ukhrawi.


Jika boleh diulang lagi, selalu ada nikmat dari seni mengikhlaskan dan ternyata rasanya memiliki hal yang tidak berlebihan justru menenangkan. Karena akan sangat disayangkan, jika banyak hal yang kita milikki tetapi tidak dapat memberikan manfaat untuk orang lain, sedangkan pada saat hari pengadilan itu tiba, setiap hal yang kita punya akan dipertanggung jawabkan.

Wallahu a’lam bishawab

“Kemudian sungguh, pada hari itu kamu akan ditanya tentang kenikmatan yang kamu peroleh hari ini (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. Al-Takatsur [102]: 8)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s