Lintasan Lari

asphalt-athletics-blur-401896.jpgSaat Aku masih tingkat 2 dan kuliah di Polban, seusai pelajaran suatu mata kuliah yang Aku lupa mata kuliahnya apa, Aku dan seorang temanku, Salma berjalan menuju pujasera (dulu pujaseranya belum kebakaran, hiks). Selama di perjalanan menuju pujasera, Aku membuka obrolan

“Eh ma, kalo diliat, temen sekelompok LKMM Aku sekarang pada “jadi” ya. Pada jadi cakabem, malah ada yang jadi kabem. Ada yang jadi aktivits juga. Sedangkan Aku masih gini-gini aja, ga ada perubahan”.

(P.S: LKMM itu adalah sebuah kegiatan orientasi kepemimpinan, yang di akhir kegiatan dihadapkan pada dua pilihan, bergabung menjadi anggota BEM/MPM atau kembali ke himpunan jurusan)

“Ah ntar juga ada waktunya mon” Jawab Salma santai

Dulu, Aku si remaja tua atau bisa juga disebut dewasa muda yang terlalu insecure akan diri sendiri. Terlalu melihat “lintasan lari” orang lain dan secara gak sadar, malah memperlambat kecepatan lariku sendiri untuk mengejar apa yang Aku mau. Apalagi dengan berbagai platform social media yang membuatku dengan mudah mengetahui seluk beluk hidup orang lain. Aku terlalu sibuk membanding-bandingkan hidupku dengan orang lain, menanyakan pertanyaan yang tidak perlu untuk diriku sendiri seperti “keren ya dia, sedangkan Aku masih gini-gini aja”, sehingga secara gak sadar, Aku membangun sebuah rasa ketidakbersyukuran akan hidup dan segala rejeki yang Aku punya. Rejeki disini bukanlah berupa uang, tapi kesehatan, keluarga, sahabat dll.

Beberapa tahun setelahnya, Aku sudah lulus dari Polban. Hari-hari Aku jalani seperti biasa, kuliah, kerja dan freelance estimator, kebetulan setiap weekend Aku senang untuk lari. Biasanya Aku lari di lapangan Brigif.

Saat itu sore hari, tidak hujan dan langit masih lumayan cerah. Momen yang asik untuk lari sore. Aku pun menghubungi salah satu teman SMPku, dia Wira, untuk mengjaknya lari sore. Wira pun mengiyakan dan kami pun bertemu di lapangan brigif. Wira datang bersama adiknya, jadi kita lari bertiga.

Selama lari di lintasan, Aku dan Wira mengobrol tentang banyak hal. Seputar kegiatan sehari-hari masing-masing serta mengenang masa-masa kocak ketika SMP dulu. Kira-kira satu setengah jam kita menghabiskan waktu untuk berlari di lintasan hingga kami sama-sama kelelahan.

Di dekat rumput pinggir lintasan, kami pun duduk dan beristirahat sejenak. Di sela-sela obrolan itu, Wira berkata padaku

“Kamu mah enak ya mon, D3 udah beres, sekarang lagi kerja. Kamu anak terakhir jadi ga perlu nanggung siapa-siapa lagi. Jadi ga ada yang harus dipikirin lagi. Ga kaya Aku”

“iya, alhamdulilah” Jawabku sambil cengar cengir. Aku berhenti sejenak, lalu kuteruskan lagi kalimatku “Tapi kan kamu lagi ngerjain skripsi. Semoga dilancarkan ya sampe nanti wisuda. Semoga juga dapet kerja biar bisa nikmatin gaji pertama hehehe”

Setelah kenyang dengan mengobrol, akhirnya kami pun pulang.

Selama di perjalanan, Aku memikirkan kembali apa yang Wira katakan padaku. Kalimat itu, serupa intinya dengan apa yang pernah Aku katakana kepada Salma, ketika Aku masih tingkat 2. Sama-sama terlalu melihat “lintasan lari” orang lain.

Setelah dengan berjalannya waktu, Aku sadar bahwa aturan hidup itu gak kenal waktu dan semua orang ga mesti bersinar di waktu yang bersamaan. Jika memang waktu kamu untuk bersinar lebih lama dibanding orang lain, bukan berarti kamu berada jauh dibelakang mereka.

Gak ada aturannya kamu harus menjadi ketua sebuah organisasi di usia 19 tahun, jika memang begitu, semua orang akan jadi ketua dan ga ada satupun anggotanya. Gak ada aturannya juga kamu setelah SMA harus kuliah, jika ada temanmu yang memutuskan untuk bekerja selepas SMA, bukan berarti Ia berada di belakang orang-orang yang mengenyam bangku kuliah. Semua hanya permasalahan momen yang pas untuk bersinar.

Jika semua orang di dunia ini hidup berdasarkan in terms of time kaya di umur segini kamu harus udah sarjana, di umur segini kamu harus udah nikah dan di umur segini kamu harus udah punya anak. Ya jadi bakalan beda, ibaratnya kaya masak sayur asem tapi Cuma pake 1 bahan. Rasanya ga endol.

Nah makanya, selepas melihat “lintasan lari” lari orang lain, sudah kewajiban diri sendiri untuk me-manage hati, untuk menyadarkan diri sendiri bahwa semua orang punya gilirannya masing-masing, giliran untuk gagal maupun sukses dan bersinar. Serta jangan segan-segan menampar hati sendiri jika rasa ketidakbersyukuran itu muncul.

One thought on “Lintasan Lari

  1. Setuju banget, dan juga problem masyarakat Indonesia itu suka ngejudge yg engga engga kalo ada orang yang beda dari apa yang kebanyakan orang lakukan even dia melakukan sesuatu yang positif kayak misal buang sampah bekas nonton di bioskop, hal ini yang bikin dia minder karena yang lain cuma dibiarin aja sampahnya, lalu dia ngikutin orang lain dengan membiarkan sampah itu dibersihkan sama petugas. Padahal kalo sampah nya dibuang sendiri setidaknya bisa meringankan beban petugas. Tanggapan ini agak OOT sih dari post km tapi poin nya adalah kalo kita terpaku sama orang lain kapan kita maju.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s