Tersesat di Jalan yang Benar

IMG_1013.JPG

Beberapa hari yang lalu, Aku dan kedua orang tuaku lagi ngomongin tentang seputar ujian masuk ke perguruan tinggi dan mahalnya biaya kuliah sekarang. Ayah Aku yang baru balik dari acara perpisahan guru-guru yang mau pensiun di Garut pun nyeritain percakapan dia dengan rekannya.

“Kemaren, masa pak X ga percaya kalo anak papah tiga-tiganya lulusan Polban? Malah sampe dikira Papah teh punya orang dalem biar bisa masuk ke Polban”

Terus Aku nyeletuk

Emang kenapa gitu kalo tiga-tiganya masuk Polban?”

“Ya bagus dong kalo tiga-tiganya lulusan Polban, sekarang kan ujian masuk kuliah di negeri susah” Ujar Mama.

Terus, entah kenapa rasanya Aku jadi flashback ke beberapa tahun lalu. Tentang kisah Aku yang tersesat, (dan semoga tersesat dijalan yang benar). Aku ceritain ke orang tua dan mereka ngakak sejadi-jadinya. Iya, ngetawain anaknya yang pernah atau mungkin sampai saat ini tersesat.

So here we go.

Sejak SMA, pelajaran fisika adalah pelajaran yang Aku hindari. Alesannya ya karena ga ngerti. Dan ke engga-ngerti-an soal pelajaran fisika makin menjadi ketika dapet guru fisika selama di SMA yang bikin Aku tambah ga ngerti.

Sebenernya alesan doang sih, guru fisika di SMA aku ga salah, mereka mengajar dengan baik. Guru les bimbel pun ngajarinnya juga udah bagus. Ya emang pada dasarnya aja Aku gasuka, jadinya apapun yang berkaitan dengan fisika, Aku takut.

Sampe pas UN pun, Aku ngisi soal fisika ya sekenanya aja. Semampu yang Aku bisa. Alhamdulilah Aku bisa lulus UN karena awalnya khawatir ga lulus gara-gara nilai fisika yang jelek.

Waktu SMA sih cita-citanya sederhana, cuma pengen masuk teknik kimia karena suka pelajaran kimia. Terus tertarik jadi Intel karena terinspirasi serial Conan. Pengen juga jadi Kurator, makanya pengen ke FSRD. Karena Aku banyak maunya, jadi semuanya Aku cobain. Tapi berbagai ujian di perguruan tinggi, sekolah ikatan dinas hingga jalur undangan udah Aku coba, sayangnya bukan rejeki. Hiks

Hingga pada saat itu, opsi terakhir untuk masuk perguruan tinggi negeri adalah Polban. Karena Aku anaknya oportunis, Aku pun ngambil IPC.

Untuk jurusan IPS

  • Pilihan pertama: Keuangan Perbankan, Karena gatau mau ngambil jurusan apalagi, jadi ya ngikut aja jurusan Kakak Aku.
  • Pilihan kedua: Bahasa Inggris, Nyari aman.

Jurusan IPA

  • Pilihan pertama: Teknik Kimia, karena suka banget sama pelajaran kimia
  • Pilihan kedua: Teknik Konstruksi Gedung, Nyari aman. Padahal awalnya ga tau sama sekali ini jurusan apaan.

Ujian masuk Polban pun dimulai. Sesi pertama adalah test untuk jurusan IPA. Materi yang ditest itu seputar matematika, kimia, fisika, bahasa indonesia dan bahasa inggris. Semua pelajaran yang di test-in sih oke-oke aja, Aku mantep banget ngerjain soal-soalnya. Kecuali pelajaran fisika. Meskipun Aku udah belajar beberapa bulan sebelum test, tapi tetep aja gugup pas ngeliat soal fisika yang bikin pusing. Apalagi dengan adanya sistem minus yang diterapin di SMB Polban, makin menjadi deh Aku takut sama pelajaran fisika. And you know what? Soal fisika pas SMB itu cuma Aku isi 40% dari jumlah soal.

Soal test jurusan IPS pun yang Aku yakin bener cuma pelajaran matematika, bahasa indonesia dan bahasa inggris. Pelajaran sisanya, Aku hanya isi sekenanya aja.

Pengumuman kelulusan pun tiba. Dengan rasa deg-degan luar biasa, Aku liat pengumumannya. The funny thing is, ternyata Aku lolosnya di jurusan Teknik Konstruksi Gedung. Aku pun nangis ketika buka pengumuman itu, ya, nangis seneng karena bisa kuliah di negeri dan juga nangis karena ga ngerti Aku masuk jurusan apaan.

Pas malam hari pun keluarga Aku seneng banget Aku bisa masuk kuliah di Negeri. Ya apalagi alesannya kalo bukan biayanya yang murah dan iming-iming cepet dapet kerja bagi lulusan Polban?.

Kakak Aku pun nyeletuk

“Keren banget bisa masuk jurusan teknik sipil. Jurusan paling bagus di Polban”

Akupun cuma bisa nyengir. Nyengir karena bener-bener ga tau Teknik Sipil itu apa. Sedih banget ga sih?

Masih di hari yang sama, sebelum tidur, Aku pun searching di google tentang apa itu teknik sipil. Aku nemu di wikipedia, linknya disini. Tapi meskipun Aku udah baca, Aku pun belum 100% paham apa itu Teknik Sipil.

Pas masa orientasi kampus tiba, Aku nanya ke beberapa temen-temen alasan kenapa mereka masuk jurusan teknik sipil. Aku pun terkesima sekaligus merasa “kecil”. Karena mereka udah tau banget apa yang mereka hadapi dan akan mereka lakukan. Mereka tau seluk beluk teknik sipil karena ayahnya, pamannya atau kenalannya. Sedangkan Aku? Seriously, I have no idea about that, Aku gatau hal yang akan aku hadapi nantinya, entah itu baik atau buruk, Aku gatau sama sekali.

Jadi kalo ada yang nanya ke Aku kenapa bisa masuk jurusan teknik sipil, Akupun gatau alasannya. Satu alasan yang pasti, saat Aku milih jurusan, Aku ingin mencari aman. Tapi, apakah ini benar-benar hal yang membuat Aku merasa aman?

Masa orientasi telah usai, kini mulai memasuki masa perkuliahan. Duh, jangan ditanya gimana first impression Aku tentang kuliah di Sipil. Setiap pelajaran, Aku cengo. Ya, Cengo karena 90% pelajaran di Teknik Sipil itu implementasi dari pelajaran fisika. Kalo udah gak sanggup di kelas, Aku sering ijin keluar kelas sendirian dengan dalih ke WC. Padahal aslinya kelayapan. Kadang diem di Mesjid LH, jajan cuanki bang Jek di gedung Akuntansi, makan gorengan di Tokema atau minum fruit tea di Koperasi gedung P2T.

Lalu, Setiap hari Aku bertanya pada diri sendiri, “Kenapa yang Aku hadapi justru adalah ketakutanku selama ini?”

Karena selama semester 1 Aku merasa “Ketakutan”, sehingga IP pertamaku tidak maksimal. Belum lagi perkataan kakak kelas yang bilang “IPK awal menentukan IPK akhir” membuatku semakin merasa “Kecil”. Pada titik itu, rasanya Aku ingin berhenti dan ikut lagi SPMB di tahun depan Tetapi, mengingat kembali wajah orang tuaku yang begitu bahagia ketika Aku masuk Polban pun membuatku mengurungkan niat.

Pada saat transisi ke semester 2, di suatu hari, Aku pun merenung. Dari 4 pilihan yang Aku pilih pada saat test, otomatis Aku memiliki 4 probabilitas, Tapi, Allah pasti memiliki maksud serta tujuan kenapa Aku hanya bisa lolos di jurusan Teknik Konstruksi Gedung, jurusan dengan segala isinya yang Aku takutkan.

Aku yakin pasti Allah sudah menyiapkan sesuatu yang terbaik untuk hidupku.


“Diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

(QS. Al-Baqarah : 216)


Aku yakin, Allah gapernah menciptakan produk gagal dan Allah pasti udah sedemikian rupa menciptakan skenario hidup yang terbaik untuk ciptaaNya. Dengan Aku yang meratapi nasib terus menerus, berarti sama saja Aku meragukan kuasa Allah. Karena keyakinan itulah, muncul percik api semangat di dalam diriku.

Aku boleh aja salah jurusan, Aku boleh aja takut dengan yang Aku hadapi sekarang. Tapi Aku gaboleh menyerah dan akhirnya kalah.

Semester-semester selanjutnya pun Aku lakukan dengan versi terbaik dari diriku. IPK tiap semester pun mulai menunjukan perubahan. Hingga pada saat tingkat 3, saat dimana penyusunan tugas akhir, Aku pun mengambil topik dengan KBK manajemen.

The story behind this is, Karena nilai mata kuliah yang berhubungan dengan Manajemen di transkripku itu ga pernah ada yang bagus, paling bagus itupun BC. Gatau sih, entah kenapa untuk matkul yang berhubungan dengan manjemen ini, segimanapun Aku berusaha, emang hasil nilainya tidak selalu bagus.

Itulah kenapa Aku mengambil topik tentang manjemen. Alasannya karena meskipun Aku ga memiliki nilai yang bagus, Ada ketakutan jika suatu saat nanti bisa saja gagal, tetapi Aku memiliki keinginan untuk benar-benar bisa dan mampu.

Penyusunan TA, bimbingan dan sidang tugas akhir pun Aku berusaha menjalaninya sebaik mungkin. Hingga pada akhirnya, saat wisuda, Alhamdulilah TA milikku termasuk kedalam penghargaan kategori TA terbaik. Selain itu, ungkapan “IPK awal menentukan IPK akhir” itu tidak sepenuhnya benar karena Aku berhasil membuktikan bahwa IPK akhir jauh lebih baik dibanding IPK awalku.

Well, ternyata hidup tanpa GPS itu menarik. Kamu gatau apa-apa soal apa yang akan kamu hadapi kedepannya. Yang kamu pikirkan adalah terus mencoba hal yang kamu benci dan hal yang kamu sukai. Berusaha memberikan yang terbaik yang kamu bisa dengan sepenuh hati.

Karena, kamu sebenarnya kamu ga bakalan tau yang terbaik ataupun yang terburuk sebelum kamu mencoba .

Jika kamu penasaran apa yang ingin Aku lakukan kedepannya, Aku tetap ingin berada di dunia Sipil. Alasannya karena Aku masih penasaran untuk mengetahui sampai mana kemampuanku melawan rasa takutku. Selain itu, Aku pun ingin memberikan manfaat atas ilmu yang selama ini Aku pelajari ke orang lain.

Yup, inilah kisahku yang tersesat di jalan yang benar (Insya allah)


Sukses itu adalah melakukan hal yang tidak anda suka. Kenapa? kalau Anda melakukan hal yang Anda suka dan Anda bagus, itu udah biasa. Iya lah, Anda suka terus Anda lakukan pasti bagus. Tapi kalo Anda melakukan hal yang gak Anda suka dan Anda berlatih untuk itu and then Anda liat hasilnya mau itu bagus, mau itu jelek.

Tapi intinya adalah Saya ingin mencoba hal-hal yang Saya tidak suka dan menunjukkan kepada anak Saya bahwa sebagian dari sukses adalah mencoba hal-hal yang selama ini kita anggap kita tidak bisa, karena kita tidak suka tapi harus kita lakukan dan harus kita coba. Karena kalo kita tidak pernah mencoba kita tidak pernah tau.

-Dedi Corbuzier-


 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s